Monday, September 26, 2016

its okay to say No

Berteman sih berteman tapi tetep harus realistis, dalam artian kita tetap punya karakter walaupun berteman dengan siapa aja, gampang nya ga kebawa arus alias copy cat membabi buta agar diterima di suatu komunitas,  itu menurut saya sih ya. Tapi hal ini juga saya tularkan ke Saka, bahwa berkata tidak atau menolak itu bukan masalah dan bukan berarti kejam hehehe. 

Teman itu pengaruhnya besar terhadap kepribadian anak, eh jangankan ke anak anak ya, kita aja yang setua ini masih kok suka kebawa arus pertemanan, jujur deeh hihihihi. Kalo kebiasaan baik sih hayuk aja, nah kalau kebiasaan yang kurang baik ini yang harus di tegesin. Jadi kita sebagai ortu juga harus fast response kalo dapat radar begini kan ya.

Beberapa kali Saka cerita ada teman yang suka memaksakan kehendak mereka ketika bermain, ada yang tiba - tiba saya mendapati Saka jadi suka ngomongin kejelekan teman yang saya tau ini bukan kebiasaan dia. Terus apakah saya diam saja, ooh tentu tidak. Saya selipkan iklan iklan ketika kami ngobrol santai bahwa ada hal hal baik dari teman yang bisa kita contoh, tapi hal hal buruknya kita tinggalkan saja. Dan Saka balik bertanya kalau temen marah ketika kita tolak gimana, saya bilang apakah Saka suka di perlakukan seperti itu dan dia jawab tidak mau. So its okay untuk berkata tidak dalam pertemanan, begitu pun sebaliknya kita juga tidak boleh memaksakan kehendak ke teman, dan Saka setuju 

Ada yang beberapa ortu yang beranggapan bahwa masalah anak - anak sebaiknya ortu tidak terlalu ikut capur atau menganggap serius. Ada juga yang bilang bukan tugas kita to educated everybody....no, bukan itu poin nya, kita educate aja anak kita sendiri, dan semoga dengan pondasi yang kuat anak anak kita tidak gampang goyah ikut arus pergaula  dan  semoga bisa menularkan kebaikan ke lingkungan bermainnya, dan 1 hal lagi ketika kita melihat dan tau ada yang tidak benar terjadi ( dilingkungan kita ) maka kewajiban kita lah yang memberitahu anak anak bahwa tindakan mereka kurang tepat, alias jadi wasit yang mengawasi kegiatan itu berjalan aman, ketika tidak aman maka Wasit turun tangan untuk menghentikan, menginformasikan aturan main, dan mempersilahkan permainan lanjut lagi. It takes a village to raised a kid, right? jangan acuh sama lingkungan....

Gampang  jadi Wasit....susah susah gampang, karena kita harus aware tanpa membela pihak manapun. Kejadian nih semalem, Saka bermain dengan 3 temannya lalu tiba tiba Saka dan temannya si A berbisik bisik dan saya tau ada yang ga beres hihihi. Lalu saya komen mainnya bersama sama yang rukun, akirnya temannya bilang kalo teman B nya tidak di perbolehkan mengambil mainan termometer oleh Saka, lalu saya tanya apakah teman B sudah ijin ke Saka dan teman B bilang sudah, lalu saya tanya apakah Saka memberi ijin dan Saka jawab tidak mengijinkan ( Saka sempat bertanya bener kan kalau dia ber hak bilang tidak ). Maka saya bilang ke mereka bahwa mainan ini punya Saka, yang ingin meminjam mainan harus atas ijin Saka dan ketikan tidak di ijinkan maka tidak boleh memaksa, atau kalo memang Saka tidak mengijinkan maka cobalah untuk nego kira kira mainan apa yang boleh di pinjam, dan mereka setuju lalu saya persilahkan mereka main bersama sama lagi #lalalala. Dan saya sisipkan juga aturan ijin ini berlaku untuk siapapun dan dimanapun.

Fuuuiiiihhhh #lapkeringat. Pasti lah ada salah satu pihak yang kecewa dengan penolakan atau situasi ini, its okay...anak anak harus bisa menghandle rasa kecewa dengan aman, gede nya ntar juga bakalan banyak yang bikin mereka kecewa kok hihihi, jadi latihan dari dini ya nak #tssaaahh.

Learn something? of course i learn something that its okay to say NO, here is my opinion:

  1. We can never control everybody’s opinion of you. Whatever we do, whatever we say, people will judge, either fairly or harshly. Don’t sweat this small thing. Don’t let it ruin our day.
  2. We’re the only one who can really identify our priorities in life. Our happiness will be made up of the choices that we make in life. If we’re not sure about something, say no to it.


It’s our call. Live the life we want! Make our own destiny. It can all start if we realize that it’s okay to say no. Udah ga jaman ikut arus euy, sekarang jaman nya create something to a better life. Saka will learn this too....kaga ada ilmunya di Sekolah gedung, adanya di sekolah emak ilmu beginian hihihi.



Love,
R

Tuesday, August 30, 2016

Belajar Membaca

Yuhuuuu....lama ga coret coret disini....
Mumpung kegiatan belum padat yuk lah cerita cerita sedikit.

Minggu ini tiba tiba aja Saka ngajak belajar membaca,,,,,nah kesempatan lah ini. Mulai ubek ubek internet cari metode balajar baca yang cocok. Banyaaaak ya ternyata hihihi.

Tapi akhirnya kami putuskan pakai metode belajar baca dengan kata dan suku kata.

Iam a lucky mom, kenapa? Ya karena  saya ini tipe emak males, ngikutin aja apa yang jadi minatnya saat itu, jadi lebih enjoy ngejalaninnya ga pake maksa si anak buat menyukai kegiatan yang mungkin saya suggest plus energi "meminta" lebih bisa di minimalkan lah ya hihihi.

Balik lah ke soal belajar membaca, step step yang saya pakai:

1. Sediakan waktu luang, waktu yang bener bener luang, no TV, no gadget dan ga lagi buru buru plus keadaan hati masing masing ( pengajar dan yang akan diajar ) in the very good mood. Kenapa? Karena menurut kami belajar harus fun, belajar harus yang kita sukai dan kita minati.

2. Tanya anak kapan siap belajar, kenapa? Karena Saka belumpunya jadwal khusus untuk belajar dan yang saya yakini adalah ketika anak punya keinginan maka komitmen will followed. Proses belajar mengajar pun lebih smooth.

3. Singkirkan energi meminta, apaan ini? Energi yang diam diam menyusup di diri emak emak ketika kita mengajarkan sesuatu ke anak, pengen si anak cepet bisa lah, pengen si anak sepintar ibu lah, dll. Let it flow....kita nikmati prosesnya, karena setiap anak unik, proses belajar juga demikian. Kalo belajar nya fun maka anak akan senang belajar dan ga kapok belajar sama ibunya lagi. Belajar sambil marah marah is so yesterday lah hihihi.

4. Kenalkan abjad, kenalkan anak pada semua huruf huruf sampai hafal dan acak untuk me make sure mereka hafal.

5. Kenalkan suku kata, setelah anak kenal huruf, masuk tahap berikut suku kata. Contohnya : ba ca da fa wa ya ga ya, dll dan ini di acak acak semua huruf sampai anak hafal, jangan beralih ke kata jika suku kata belum hafal.

6. Kenalkan kata, baru setelah suku kata hafal, maka beralihlah ke kata yang di susun dari suku kata yang sudah mereka hafal. Contohnya papa gaya baca, dll

7. Kenalkan 2 kata, tahap berikutnya setelah 1 kata maka ke 2 kata dari 1 kata yang sudah mereka hafal di tahap 6. Contoh : papa baca, gaya waya, dll.

8. Lanjutkan ke jumlah suku kata yang lebih banyak.

9. Apresiasi setiap kali anak bisa, pentiing ini dan ternyata its work membuat suasana belajar lebih semangat, anak senang karena dari mereka tidak bisa dan menjadi bisa ternyata di hargai. Pengajar pun juga ikutan happy melihat yang diajar bisa dan bahagia hihihi.

Sementara ini Saka masih pada step 2 kata, dan belajar kami hanya beberapa menit saja setiap hari but its fun.

Selamat belajar membaca......

Love,
R

Monday, May 2, 2016

Memperkenalkan Pekerjaan Rumah Tangga ke Anak

Udah lama pengen ngajarin dan membudayakan tahu pekerjaan rumah tangga ke Saka, tapi karena kesibukan pekerjaan di luar rumah jadi nya baru beberapa hari ini kesampean. Mumpung libur kerja saatnya "menanam sesuatu" hihihi.

Kalo budaya kluarga kami, karena tidak memakai jasa asisten rumah tangga, jadi semua pekerjaan rumahtangga saya dan suami yang kerjakan sendiri.

Setiap malam tugas saka menyalakan ac kamar dan menyiapkan bantal guling untuk tidur, pagi nya mematikan ac dan merapikan bantal guling. Ngelipet slimut tugas saya karena lumayan besar.

Dan hari ini Saka mulai belajar mencuci perlatan makan, minum dan kotak bekalnya sendiri.

Reaksi Saka gimana?
Ehhmmm...anak anak tuh rasa ingin tahu, ingin membantunya itu besar sekali ya, jadi pas saya ajarkan itu semua ya seneng senang aja malah menawarkan mencuci piring lain hehehehe. Tp sekarang cukup mencuci peralatan dia sendiri saja.

Sebenernya ga sulit ngajak anak anak mengerjakan pekerjaan rumah tangga, karena dasarnya mereka ingin tau jadi tinggal kita arahkan saja mana yang bisa mereka kerjakan sesuai kemampuan mereka dan beberapa hal ini:

1. Mencontoh
Children see, children do. Udah sering lah di bahas soal ini ya. Yang intinya kalo mau anak berbuat seperti apa yang kita inginkan maka ya berilah contohnya. Jangan minta anak bantu cuci piring eeh kitanya ga pernah cuci piring :))
Anak tuh nganggep apa yang di lakukan ortu mereka adalah keren, makanya mereka adalah fans berat kita.

2. Jangan berharap berlebihan
Jatuhnya sakit hati nanti kalo ngarepnya berlebihan hihihi. Setelah kita kasih tau cara mengerjakan sesuatu maka berilah kesempatan mereka melakukan sendiri. Standard kita singkirkan, jangan berharap langsung sempurna,  bertahap nanti mereka akan bisa.

3. Pujilah
Jangan pelit memuji, tapi yang tulus ya. Kalo mereka melakukan hal yang keren brarti memang layak mereka mendapat pujian. Kita juga happy dan anak juga merasa di hargai atas apa yang mereka lakukan.

Ada tips lain dari emak emak? Monggo di tambahkan ;)

Love,
R

Si Upil

Ayah, kenapa sih kalo bangun tidur itu kita ada upilnya....naaaah looooh ternyata pentingkan kita tau proses terbentuknya upil hihihi, di tanyain loh sama anaknya.

Ga di duga duga lagi waktu pertanyaannya, jadi selalu persiapkan diri anda setiap saat biar ga gampang kejengkang hahahha.

Jadi deh ayahnya menjelaskan proses terjadinya upil dari debu debu yang masuk ke hidung dan di saring bulu bulu hidung akirnya menjadi gumpalan gumpalan kecil dan diem di hidung, biar ga masuk ke saluran nafas, ini ngejelasin sambil mandiin Saka wekekeke. Pertanyaan apapun hayuk aja lah, ga ada pertanyaan yang di labeli jorok, tabu, aneh, atau konyol.

Bersyukurlan kalo anak kita mau menjadikan kita sumber dari pemecah rasa ingin tahunya, daripada mereka lebih suka tanya ke temen atau orang lain yang belum tentu bertanggung jawab atas jawabannya.

Love,
R

Friday, April 29, 2016

Pertanyaan Anak Anak

GNamanya juga anak anak, pasti ada aja yang dijadiin bahan pertanyaan. Bahkan pertanyaan pertanyaan di bawah ini tidak pernah saya pikirkan untuk mempertanyakannya ke orang tua atau guru saya. Ini nih contohnya

Bunda : tadi kegiatan apa aja di sekolah?
Saka : modelling, makan, terus nyanyi.
Bunda : nyanyi lagu apa aja?
Saka : lagu bintang sama ambilkan bulan bu *sambil nyanyi ambilkan bulan bu*

--tiba tiba berhenti nyanyi dan bertanya--

Saka : emang ibu ibu bisa ya ngambil bulan?
Bunda *kejengkang* eehem.....ya enggak juga, itu perumpamaan aja di lagu itu menganggap ibu nya super hero yang bisa melalukan apa aja.
Saka : kalo mau ambil bulan ya ibunya jadi Astronot lah
Bunda : hahahahaha ya ya ya bisa jadi bisa jadi sebenernya ibu dalam lagu ini adalah seorang Astronot. Tapi Astronot pun juga ga bisa ambil bulan yak hihihi

Dulu saya kecil nrimo nrimo aja dengan semua lirik lagu yang ada, tidak ada keanehan yang patut saya pertanyakan. Ternyata beda efeknya lagu ini ke Saka hihihihi.

Adalagi nih pertanyaannya....kali ini dia tanya ke Ayahnya

Saka : boleh ga kalo bendera kita itu duluan yang putih lalu merah yah?
Ayah : ya ga boleh, soalnya bendera Negara kita merah putih, ga bisa di ganti warna.

Bunda diam diam mikir lagi, iya ya dulu saya juga nrimo nrimo begitu saja dan ga pernah tanya warna bendera Negara kita ini bisa di rubah atau sudah paten.

Beda jaman, beda type, beda cara berpikir, beda lingkungan dan masih banyak beda beda lainnya. Berbeda dari kebanyakan bukan berarti aneh juga kan. Biar ga ketinggalan jaman memang harus terus update biar ga gampang kagetan dengan pertanyaan pertanyaan sederhana yang ternyata ga pernah ada di pikiran saya. Dari situasi ini saya belajar beberapa hal:

1. Untuk tidak menertawakan pertanyaan anak ( ini usaha sangat keras, karena saya suka spontan ketawa )
2. Jawablah pertanyaan anak sesuai fakta, jangan di beri jawaban asal apalagi hasil karangan ortu karena males mencari tahu.
3. Jangan marah, sebel, kesel, bete karena menganggap pertanyaan anak ga penting, apalagi menganggap remeh dan ga perlu di jawab.
4. Selalu sambut pertanyaan mereka dengan antusias, sekalian lah ortunya belajar kalo memang ternyata pertanyaan mengharuskan kita untuk mencari tahu.
5. Tidak selamanya ortu atau Guru itu benar, bisa jadi memang anak kita punya pendapat yang benar, jadi berfikir terbuka dan ga kolot its a must.

6. Never say " i dont know " Kalo mentok belum tahu jawabannya ya brati memang saya bilang belum tahu saat ini dan akan kita cari tahu jawabanya sama sama.

Tenang masih banyak jalan menuju " tahu " jangan sedih karena ada google dan buku dan teman teman seperjuangan yang akan membantu.

Love,
R

Thursday, April 21, 2016

Mari Berenang

Anak anak biasanya secara alami tertarik dengan air dan kolam. Nah ini Saka banget, mandi aja lamaa karena pakai acara berendam setelah mandi. Tiap kita ajak ke kolam renang bisa ber jam jam bermain air.

Jadi daripada cuma berendam dan main air aja, akhirnya saya tanya apakah pengen bisa renang, ternyata dia mau. Sekarang sudah sekitar 45 hari dia belajar berenang 2 x dalam seminggu di klub yang ga jauh dari tempat tinggal kami.

Bukan biar kece ikutan renang, tapi saya lebih fokus ke beberapa hal ini:

1. Lebih sehat
Renang bisa menyehatkan paru paru, melancarkan sirkulasi darah dan kekuatan otot. Bonusnya habis renang pasti makan lahap hihihihi

2. Olahraga sepanjang masa
Bisa berenang dari kecil berarti sampai besar atau tua nanti juga pasti akan tetap bisa berenang....bonusnya siapa tau nanti bisa nularin ilmunya ke adek atau temennya nanti hihihihihi

3. Menyenangkan
Jelaaaass...anak mana yang ga suka main air. Bahkan sesi belajar renangpun dianggap sebagai bermain bonus belajar. Bisa ber jam jam mereka ga kelar kelar dari kolam renang.


Love,
R

Friday, April 8, 2016

Pengusaha

Jadi ceritanya saya pusing liat tumpukan boneka di kamar Saka, ga pernah di pakai jadi debuan. Harus rajin rajin laundry, sementara saya ibu yang ga rajin, itu masalahnya hihihi.

Akirnya saya bilang ke Saka gimana kalau bonekanya di kasih ke temen temen yang mau terus nanti di kamar Saka kita ganti sama buku buku cerita aja. Dan Saka setuju.

Beberapa hari setelah percakapan itu ketika kami dalam perjalanan pulang menjemput dia dari rumah Uti, dia punya ide kalo boneka boneka nya mau di jual aja murah, 2 ribu dan 5 ribu dan 10 ribu......

Oooh wooowww saya pribadi sih amajing medengar ide nya. Lalu saya tanya nanti kalo ga ada yang beli gimana, Saka bilang " gak apa, nanti aku jualan Sabtu, Minggu, aku jualan setiap hari kecuali Nyepi aku ga jualan "
Hahahaha iya deh, intinya terus berusaha lah ya. Lalu terakhir dia bilang " nanti aku kasih kasih juga ke Aliya, kak Nabila sama Daphney " ( temen main nya ).

Dari sini saya cukup tahu bahwa dia tau kalo jualan belum tentu laku ( mulai sanggup kecewa ), tapi tetep berusaha jualan, mikir gimana caranya biar bonekanya laku, dan ga takut bagi bagi juga.

Sore ini Saka mulai jualan, harga boneka kecil 2.000 dan besar 5.000. Dia sendiri yang nulis angka harganya, saya bantu nempelin di bonekanya.

Pembeli pertama jelas sahabat setianya kak Nabila dan Alya hihihihi....

Jadi belajar juga nih dari anak anak yang mendukung usaha temennya, ga pake nawar, ga pake ba bi bu. Tanya harga, sesuai kantong dan langsung bungkuuuusss.....

Iam a proud mom and also proud tetangga, punya tetangga tetangga yang mau saling sapa dan main bareng.

One day ini akan jadi cerita pas mereka besar nanti hihihihihi.....

Love,

R

Tuesday, February 23, 2016

Sepatu Bertali

Jadi ceritanya kami ini ( saya dan Saka ) hobi banget window shopping sepatu, ya walaupun ga beli tapi sudah cukup senang coba mencoba hihihihi. Sampe akhirnya ada sepatu lucu bertali yang Saka pengen beli, tapi saya bilang nanti saja kalau Saka udah bisa menali sepatu biar ga nyusahin Guru atau temen. Dan dia setuju buat menunda membeli sepatu itu.

Sampai akhirnya beberapa hari lalu dia menunjukan bahwa dia bisa menali sepatu, saat itu dia praktek pakai tali guling hahahaha. Saya tanya Saka belajar darimana, dia menjawab Saka belajar sendiri....bisa jadi belajar dari sekolah atau melihat teman, karena saya sendiri bahkan belum pernah mengajarkan dia menali sepatu. Yang dia pakai sekolah selama ini adalah sepatu tanpa tali dengan alasan biar memudahkan dia pada saat harus melepas dan memakai sepatu lagi tanpa menyusahkan atau meminta bantuan orang lain ( bemper ya emaknya Saka hihihihi ).

Naah kan jangan meremhkan kemampuan anak. Karena dari menali guling ini saya anggap benar dan siap memakai sepatu bertali, brati saya wajib memenuhi janji donk ya untuk membeli sepatu bertali yang dia pengen.

Begitu terbayar sepatunya, dia langsung praktek cara dia menali sepatu. Lama? Iya aga take time menunggu dia menali sepatu, however this is the process for Saka to tie up the shoes like a pro, right? Ofcourse right, a master always start as a biginer. Just give them a chance.

Saya tanya besok kalau Saka lama menali sepatu pas di sekolah lalu di tinggal teman teman main duluan gimana? ( emaknya kepo nanya nanya mulu nih ) dia jawab " gapapa, aku tali aja dulu ga minta tolong miss, kan aku anak mandiri " aaaaah ini jawaban manis amat yaak. Malah lebih kepo lagi emaknya nanya " anak mandiri itu kayak gimana?" Dia bilang anak mandiri itu yang ga nyusahin orang lain, bisa melakukan sendiri tugasnya" aw aw aw aw aw langsung traktir es krim laah nih anak kalo jawabannya begini hihihihi.

Beginilah cerita soal sepatu bertali aja bisa sampe panjang gini ya, emak emak mah kalo ga ngomong panjang lebar kurang lengkap harinya.

Yesterday night was complete belajar sama anak:

Put yourself in your child shoes ( bukan karena soal tema sepatu ya hahaha ).
Always give them a chance to explain their behaviour and necessary to understand their point of view

Be patient, kurangin expect our child to change overnight, dan kurangin juga expect ke diri kita bahwa kita harus jadi perfect parents ( perfect di mata orang lain juga wekekeke ) dan segala sesuatu memang butuh proses. Proses ini juga yang bikin kita habis kesabaran yaa....lalala marilah kita belajar sabar untuk sebuah proses, PR !!!


Love,
R

Thursday, June 25, 2015

Menghitung

4 tahun 7 bulan dan surprise dia bisa tambah tambahan sampai 10, ya kaget lah orang kita ga pernah ngajarin dia.

2 hari lalu si Ayah cerita kalo sebelum berangkat kerja, Saka tanya matematika itu apa. Nah dia tau tentang kata matematika ini dari temen temen main yang udah pada usia SD. Si Ayah ngasih taunya matematika itu tentang berhitung dan lalu di kasih contoh berhitung tambah pakai jari jarinya, karena sebelumnya Saka memang sudah bisa berhitung sampai 10.

1 x si Ayah kasih tahu tentang tambah tambahan menggunakan jari jari sampai 10 dan ketika di tanya tentang pertambahan ini dia bisa dengan benar menghitung dan menyebutkan hasil tambahnya, amazing.

Amazing disini bukan lalu membuat kita langsung napsu nyekokin dia dengan materi hitung hitung yang lebih rumit biar " keren ", tidaaak kami hanya kagum saja karena ketika kita tidak memaksakan akan sesuatu untuk di pelajari anak ( demi memuaskan ego ortu kebanyakan ) malah keinginan untuk tahu dan keinginan untuk bisa datang dari anak itu sendiri.

Karena kami yakin semua manusia itu adalah pembelajar. Kita hidup, tumbuh dan berkembang karena kita tidak pernah berhenti belajar.

Love,
June 25, 2015

Wednesday, June 3, 2015

Inisiatif

Dua hari ini motor saya bermasalah, tidak bisa starter menggunakan tangan, dan ketika bermotor sama Saka, beberapa kali juga minta bantuan orang untuk menyalakan motor secara manual menggunakan starter kaki karena belum sempat ke bengkel untuk memperbaiki.

Nah kejadian 2 hari lalu membuat saya terharu hampir mewek dibuatnya. Hari itu  libur kerja dan berniat ke bengkel, sebelum suami berangkat kerja, dia sudah memposisikan motor siap starter manual menggunakan kaki, tapi ternyata starter kaki tidak semudah yang saya bayangkan. Mencoba beberapa kali dan gagal, Saka merasa iba, muka dia terlihat sedih, walaupun saya sudah berusaha tertawa (menertawakan kegagalan starter manual ), Saka bilang supaya kita minta tolong papa Ajun aja ( papa teman bermain, anak tetangga ) tapi saya bilang let me try again, kita berusaha dulu ya siapa tau akhirnya bisa *ngomong sambil ngerasain kaki pegel akibat starter*.

Beberapa kali gagal starter makin membuat Saka iba melihat saya yg keukeh mencoba terus, lalu dia suggest lagi agar minta tolong papa Jeden aja ( papanya temen Saka bermain juga ), tapi saya bilang one more let me try *teutep keukeh*. But.....tiba tiba dia pamit mau main sama temen teman dulu, dan saya mengijinkan sambil menunggu berhasil starter motor.

Dari jauh saya dengar Jeden bertanya kenapa Saka belum berangkat, dan di luar dugaan Saka menjawab " motor mamaku ga bisa di starter, susah. Papi kamu bisa nolongin ga" aaaaiiihhhh siapa yang ga kaget di buatnya, she is my 4th years old and she know how to handle this bad situation. Terharuuu dibuatnya, dia ga tega ngeliat bundanya kesusahan.

Dan di hari yang sama, Saka kedatangan Vale, teman bermain, anak dari teman saya. Saka baru masuk rumah bersama anak tetangga, begitu dia tahu Vale ada di rumah dan saya meminta dia mengajak Vale main bersama anak tetangga, di luar dugaan Saka memeberi kesempatan Vale dan anak tetangga buat kenalan dahulu, tidak berhenti di situ, Saka meraih tangan Vale dan Nabila lalu memperkenalkan bahwa ini Vale dan ini Nabila....lalu mereka bertiga main bersama....ooohhh dear what a wonderful momment.

Iam blessed having you as my child, you are my amazingly fabulous fun and fearless women tobe and iam sure u will.

Love,

3rd June 2015

Sunday, February 1, 2015

Budaya Salim ( cium tangan )

Sopan santun,,,,,ambigu ya kalo ngomongin tentang ini, karena luaaas banget dan masing - masing orang punya standard sendiri sopan dan santun itu gimana. Dulu dan sampe sekarang aku pribadi sangat - sangat fleksibel tentang sopan santun, misal nih aku ga pernah mengharuskan anak cium tangan ketika bertemu dengan teman bunda atau ayah, cukup menyapa dengan muka ramah itu udah sopan nurutku, tapi entah menurut orang lain. Kalo dulu jamanku kecil mah wajib "sopan banget", wajib salaman dan cium tangan ke semua orang dewasa yang kita temui di acara ortu atau keluarga.

Saat ini kami tinggal jauh dari kampung halaman, jauh dari orang tua juga dan sadar atau tidak budaya timur mulai tergerus, dilupakan ( salaman dan cium tangan yang terlupakan hihihi ). Dirumahpun ya kami biasa aja, contoh ketika Pak.suami datang, bukan cium tangan yang aku lakukan, tapi kami lebih suka memeluk dengan wajah girang, Saka pun juga demikian ga pernah cium tangan ketika bunda atau ayahnya pulang kerja karena memang budaya cium tangan itu tidak pernah aku tunjukan jadi tidak ada panutan buat Saka tentang cium tangan.

I have no idea mengajarkan budaya cium tangan sebagai salah satu bentuk dari sopan santun sekarang ini,  until this happened... ketika kita pulang kampung ke rumah mertua di Malang Jawa Timur kami bertemu orang tua, saudara dan teman - teman lama, nah budaya salam, cium tangan, cipika - cipiki, cium kening ini tiba - tiba nongol, buat aku dan Pak.suami mah biasa aja karena dari dulunya kami begitu, tapi buat Saka? ofcourse this is something new & different buat Saka. Hal baru ya? pastinya ga mudah, bahkan sama yangkung, yangti, pakde & bude nya aja Saka "belum mau" salim ( salaman dan mencium tangan ). Disini aku bilang "belum mau" iya karena pelajaran budaya cium tangan ternyata lupa aku masukan dalam kurikulum Saka ;) hihihi.

Selama ini aku membiarkan Saka dengan sikap alaminya menghadapi orang asing yang mostly dia akan jaga jarak, melihat sikon, pasang muka jutek kalo di isengin ( di towel pipinyalah, di cium paksalah, di liat gemeslah, dll ), yang selama ini menurutku wajar saja karena itu hak dia melindungi diri ( kita orang tua juga ga akan suka kan kalo tiba - tiba kita di towel - towel, diliatin usil, apalagi di ciumpaksa hihihi ). Memang benar itu adalah hak anak atau kita untuk melindungi diri dari orang asing biar tidak sembarangan memperlakukan kita, tapi lebih jauuuh lagi ternyata unsur budaya timur ini harus tetap lestari, mencium tangan orang yang lebih tua dan orang yang kita hormati itu adalah salah satu bentuk dari rasa sayang kita tanpa melupakan hak kita tetap melindungi diri.

Maka dari sinilah PR budaya cium tangan sebagai salah satu bentuk sopan santun dan bagaimana harus bersikap dengan orang asing, teman, teman ortu, saudara, kakek - nenek, dan bagaimana bila di rumah orang lain mulai masuk dalam kurikulum Saka. Apalagi kami ini orang timur yang masih kental dengan budaya sopan santun, terutama kepada orang tua. Tidak memaksa harus saat ini juga diikutin oleh Saka, tapi kami lebih suka memberi contoh saja dan iklan ( kalo iklan brati dari hati pun juga ga ngarep akan di lakukan anaknya/ energinya bukan meminta ).

Ketika menjelang tidur, lagi nonton TV berdua atau pas lagi makan aku suka nyelipin iklan sopan santun. Ketika Saka pamit mau main ke rumah teman di sebelah rumah, iklan untuk menjaga sikap juga aku selipin ( tidak berlarian di dalam rumah orang, duduk tidak sampai kelihatan celana dalam, tidak minta makanan atau minuman, tidak masuk rumah atau ruangan orang tanpa ijin, dll banyaaak ). Ternyata dari iklan itu Saka banyak tanya kenapa harus salim cium tangan, kenapa harus ini itu dan membandingkan dengan temannya yang tidak harus berbuat itu semua,,,,,jreeng jreeeng pelajaran sopan santun dimulai, membagi pengetahuanku yang juga tidak seberapa ini dan yang jelas mulai juga belajar sama - sama lagi ketika pertanyaan belum bisa aku jawab. Yeaaah Budaya,,,,ini ciri khas, yang selama ini hampir saja aku lupakan, bolehlah kita tinggal dibumi belahan manapun, tapi ciri khas dan budaya asal kita kudu tetep hidup dan lestari, bukan begitu parents?


love,









"Frozen" teach me something...

Let it go, let it go!
Can’t hold it back any more.
Let it go, let it go!
Turn away and slam the door.
I don’t care what they’re going to say.
Let the storm rage on.
The cold never bothered me anyway.

Kenal banget deh ya sama lirik lagu soundtrack “Frozen”, udah pada nonton film animasi ini kan? telaaaat nanyanya hihihi, udah ga tayang lagi di Bioskop, tapi ini film masih tetep tayang loh di rumahku, hampir setiap hari masih juga di tonton, bahkan bisa dua kali dalam sehari bila di perlukan hihihihi. Tapi memang ya ini film layak tonton, jangankan anak – anak, ibu – ibu macam aku juga masih aja menikmati tiap kali si krucil minta di puterin DVD nya, rebutan nyanyi soundtrack nya juga pernah ;))

Awal – awal sih cuma ikutan dan nemenin nonton si krucil aja sambil seru – seruan kita nyanyiin lagu – lagunya, tapi karena udah terlalu sering di cekokin sama film ini lama – lama kok jadi belajar sesuatu ya dari ceritanya, penasaran aku belajar apaan dari film ini? Yuuk mari lanjut dibaca terus….
Frozen ini adalah sebuah animasi yang bercerita tentang kehidupan keluarga kerajaan Arendelle yang dianugerahi dua putri, Elsa dan Anna. Si sulung Putri Elsa dikaruniai kemampuan menciptakan es dan salju yang dengan kemampuannya ini tanpa sengaja mencelakai adiknya, Putri Anna. Kemampuan ini akan semakin berkembang dan diasumsikan akan jahat tak terkendali. Dari sinilah cerita film ini kemudian dibangun.

Adegan dimana ketika kemampuan Putri Elsa menciptakan es dan salju diasumsikan akan jahat tak terkendali, orang tua Putri Elsa memutuskan untuk “mengamankan” kekuatannya nya dengan menutup gerbang kerajaan dan Putri Elsa di isolasi di dalam kamar dengan alasan agar orang sekitar tidak terluka oleh "kekuatannya". Belakangan adegan ini sedikit mengganggu pikiranku. Memang menjadi “beda” itu tidak mudah, dan menjadi orang tua dari anak yang “berbeda” jelas juga bukan hal yang mudah. Kebanyakan orang akan berusaha memaksakan diri untuk menjadi normal seperti orang lain yang justru akan sangat menyiksa dan jadi beban karena tidak menjadi diri sendiri, atau juga solusi yang biasan diambil adalah pergi atau menghindar dengan alasan ini bukan lingkungan yang cocok untuk kita atau alasan akan membahayakan orang lain dan lain sebagainya, itu semua cuma menunda masalah dan kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuan kita menghadapi atau bahkan kita tidak akan pernah tahu bahwa sebenarnya kita punya solusi akan masalah itu hanya karena kita terlalu sibuk dengan imajinasi horor kita sendiri sehingga terlalu takut juga untuk menghadapinya .

Dan kembali lagi ke adegan Frozen dimana setelah melalui pergulatan yang tidak mudah, ketika masalah ini terjadi dan Putri Elsa ada pada titik harus menghadapinya, ternyata solusi pun hadir. Hasilnya, kemampuan yang dulu sangat di takutinya dan diasumsikan jahat ini dapat dikendalikan oleh Putri Elsa. Bergerak meninggalkan imajinasi horor diri sendiri dan ketakutan yang di ciptakan oleh lingkungan, menjadi anugerah yang indah dalam kehidupannya.

Yaaaa,,,,dan karena adegan ini jugalah, saya sebagai orang tua tiba – tiba mendapat PR untuk selalu bisa memahami bahwa setiap anak itu unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing – masing, apa yang kita anggap itu adalah “kekurangan” hanya karena anak kita tidak seperti anak – anak pada umumnya atau anak kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan ( menjadi anti mainstream itu memang ga mudah ;) ) itu bukanlan alasan kita untuk “mengecilkan” anak kita. Bantu mereka dengan “kekurangan” itu, tanamkan bahwa “kekurangan” itu bisa menjadi kelebihan kita bila kita mau dan mampu mengolahnya dan tau bagaimana harus bersikap.
Beberapa poin yang masuk dalam list “must have item” nya para ortu nih:
  1. Bergaul lahir batin dengan anak, bukan Cuma hadir fisik aja buat anak, tapi hadirlah secara secara batin juga seperti kita ada untuk sahabat.
  2. Kalau gaul lahir batin udah lulus, maka jadi ortu yang asik akan segera nyusul, biar anaklebih memilih cerita ke ortu daripada memendam atau lebih pilih cerita ke temen.
  3. Jadi tauladan dan bukan Cuma bisa ceramah aja, biar predikat ortu rese atau predikat ortu kepo tidak sampai mampir hihihi.
Cihuuuyyyy,,,,semoga kita jadi Ortu yang mau terus belajar, belajar dari mana saja dan tumbuh bareng anak – anak kita. Masih ada PR lain juga ini yang aga mengusik pikiran, mau tau? next episode yaaa, masih nunggu waktu buat nulis nulis lagi....


Love,

Monday, October 13, 2014

Menjawab Pertanyaan Balita

Kenapa begitu, kenapa begini,,,teruuus aja si krucil akan ngejar dengan pertanyaan - pertanyaan sampai terpuaskan rasa ingin taunya hihihi dan kita pun menjadi busy-mom , ga sering juga kita sampe kuwalahan ngeladenin pertanyaannya dan bahkan juga banyak yang kita ga tau mesti jawab apa.

Setelah sering di gerilya sama pertanyaan - pertanyaan spontannya, aku mulai bisa merasakan kalo pertanyaan - pertanyaan itu memang bentuk dari cara dia berkomunikasi dengan kita, cara dia untuk menambah kosakata dan kadang mungkin Saka cuma pengen bundanya bercerita tentang apa saja.

Seperti pertanyaan yang dia tanyakan karena 2 hari lalu kita ajak Saka ke acara pernikahan teman di Gereja dan semalam dia tanya:

"Bunda waktu di Gereja kenapa menangis?"
"Di Gereja yang kapan bunda pernah nangis?"
"itu yang waktu Om Adi sama tente Erna menikah"
"oh yang itu, soalnya bunda terharu"
"terharu itu apa"
"terharu itu emosi karena bahagia"
"kalo bahagia itu harus nangis ya"
"ya enggak juga, cuma bentuk dari emosi bunda aja"
"kalo menikah itu nangis ya?"
"enggak, kalo menikah ga harus menangis, cuma kemaren banyak yang nangis karena bahagia"
"kalo menikan itu bahagia ya"
"iya donk bahagia"
"kenapa"
"bahagia karena menikah sama orang yang kita cintai"

dan pertanyaannya pun berhenti, yang terdengar cuma tawa cekikikannya sambil kita berpelukan dan sempet kebesit pertanyaan dalam hati "anak 4 tahun udah gini ya pertanyaannya" hihihihi.....

Tapi yang jelas, kita sebagai ortu bukan Tuhan yang maha tau segalanya, boleh aja kok kita bilang "bunda belum tau jawabannya sekarang, nanti kita cari tau bersama ya" atau mungkin kalo memang saat itu kita ada waktu ga ada salahnya ajak si krucil untuk browsing di internet atau bertanya ke orang yang lebih tau. Yang penting ortu tidak mematahkan semangat ingin taunya dengan membentak atau menyuruhnya diam.




Love,




Thursday, October 2, 2014

Home Made Colored Sand

Yuhuuuuu pasti pada seneng main pasir kan nak kanaknya, apalagi pasir warna ya hihihihi.
Daripada beli pasir warna, mending bikin aja sekalian seneng - seneng sama si kecil, bahannya juga murah, caranya juga gampaaaannnggg....

Bahan:
Garam halus ( sesuai keinginan )
Liquid food coloring ( warna sesuai keinginan )

Cara:
Campur garam dan pewarna makanan cair, aduk sampai warna merata, dan keringkan.

That's it!  Once dry you will have beautifully vibrant colored sand!   - See more at: http://www.growingajeweledrose.com/2013/12/homemade-colored-sand.html#sthash.Ma2nhodY.dpuf
Once dry, you will have the beautiful colored sand dan siap di pakai main atau bisa di pakai melukis warna.
Selamat mencobaaa.....










 3 Oct 2014



That's it!  Once dry you will have beautifully vibrant colored sand!   - See more at: http://www.growingajeweledrose.com/2013/12/homemade-colored-sand.html#sthash.Ma2nhodY.dpuf
That's it!  Once dry you will have beautifully vibrant colored sand!   - See more at: http://www.growingajeweledrose.com/2013/12/homemade-colored-sand.html#sthash.Ma2nhodY.dpuf
That's it!  Once dry you will have beautifully vibrant colored sand!   - See more at: http://www.growingajeweledrose.com/2013/12/homemade-colored-sand.html#sthash.Ma2nhodY.dpuf

Friday, September 19, 2014

Balita itu bisa membaca


Tiap jalan jalan aku dan Saka suka mengisi waktu selama perjalanan dengan tebak - tebakan warna warna yang kita liat, macam warna lampu lalu lintas, dll. Terus kasih tau logo - logo yang kita liat macam tempat makan, belanja, hotel. Akirnya dia hapal deh itu mall apa or hotel apa, lalu kita main tebak tebakan. Ya kalo Saka hapal, aku anggap itu biasa karena memang sering di lewatin.

Lalu, mulai dibikin kaget ketika Saka punya buku cerita bawang putih dan bawang merah yg bergambar, hampir tiap malam minta di bacain buku itu, bosen? Iya yang ngebacain sampe buosen hihihi, tp Saka nya ga pernah bosen. Akirnya karena emaknya iseng banget, lucu lucuan aja minta Saka gantian yang baca ceritanya, bunda yang dengerin dan ternyata tiap lembar gambar di buka dia bisa mengingat isi ceritanya sampe lembar terakir ( lembar nya ga banyak ). Jelas amazed me banget ini mah.

Lanjut karena Saka lagi suka sama tokoh kartun Sofia the first, kita beli buku cerita bergambar tema Sofia. Dan tetep sama, membaca cerita Sofia yang sama dari malam ke malam sampe dia hapal juga hahaha.  Mulai emaknya percaya ingatan anak itu setajam silet hahaha.
Dan sore ini seperti biasa berkendara motor dari uti ke rumah penuh kemacetan, tapi tiba tiba Saka bilang " bun, itu bis nya galeria loh " , memang ada bis kuning hijau di depan kami tapi itu kan bis kura kura transportasi umum dan bukan milik pribadi mall bali galleria, lalu aku tanya " bis nya galeria? Tau darimana Saka? "  dan ini jawabannya " iya, itu liat tulisan di atas kan bacanya galeria " duuuuh langsung deh meledak tertawa banggaku sambil nyiumin rambutnya yamg asem tapi tetep enak buat di ciumin hihihihi.

Iyaaa bener di kaca bis kunig ijo itu ada stiker tulisan "DFS Galleria" .... woow banget kan, ternyata teori teori bahwa balita bisa membaca itu bener ya. 
Tenaaang buibu jangan panik duluan dan menganggap Saka salah satu balita ajaib yang bisa membaca di usia belum genap 4th dan jangan juga buru buru ngepush balita dirumah biar bisa baca hihihihi. Jadiiii setelah kejadian sore tadi, akirnya aku browsing dan menemukan bahwa otak manusia memang di rancang buat selalu belajar, yang pasti perly terus di dukung sama suasana belajar juga yak, dan semua akan ada tahapan alami kapan anak bisa ini itu. Soal membaca, ternyata balita usia 3th - 5th  memang tahapan anak tertarik membaca simbol, gambar, logo dan ini termasuk kegiatan membaca sederhana. Thats why Saka hapal gambar ( dan cerita di balik gambar ). Kemaren aku nemuin bacaan tentang balita membaca  siapa tau bisa nambah pengetahuan kita.

Jadi sore ini, Saka tau itu tulisan DFS Galleria karena dia inget logo mall akibat sering di lewatin ( sering di ajak juga kesana hahahaha ).  Dan mulai menyadarkan emaknya biar ga bosen bosen bacain cerita buat Saka, ples di kasih sign sama Saka kalo dia butuh another buku bergambar.
Tuhan memang maha agung dan maha segalanya ya, sampai bisa menciptakan anak anak sehebat ini. Beruntung kita para orang tua bisa mendampingi dan ngeliat pertumbuhan hebat mereka. 

Setuju banget, manusia adalah pembelajar sejati, ga usah maksain anak harus belajar ini itu ( biasanya tuntutan kebangaan ortu hihihi ), semua ada waktunya, tinggal kita ciptain suasana mendukung belajar. Belajarpun juga ga melulu duduk diam, dimanapun kapanpun bisa aja belajar, jika mau loh ya hihihihi.



19 Sep 2014,

Thursday, September 11, 2014

Menikmati pantai

Tinggal di Bali dan menikmati pantai, ehhhmmmm maksudnya menikmati pantai dalam arti sesungguhnya yaitu main air, main pasir, chit chat with somebody else ( maybe ), menikmati sunset dan itu semua dilakukan tanpa gadet,,,,,pernah? kalo pernah kapan itu terjadi? hahahaha pasti jaraaang or tidak pernah sama sekali, yang ada pasti menikmati pantai dengan gadget dan sibuk poto - poto dengan alasan dokumentasi buat kenangan.

Samaaa, itu aku banget, emaknya Saka banget deh. Kepantai bertiga sama Saka dan ayahnya, jelas yang turun buat main kotor ya ayahnya dan Saka, bunda akan stay clean, enjoy makanan dan sibuk jadi mamarazi mengabadikan momment Saka dan ayah hahahahaha.

Tapi 2 hari lalu berbeda cerita, karena udah agak lama ga ke pantai, ayahpun jarang pulang kerja sorean & Saka udah nagih pantai mulu, akirnya pulang dari music school kita putuskan main ke pantai, itu jam 4pm jadi kebayang puanasnya pantai saat itu. But who care ( batin Saka ) yang penting bisa menikmati pasir, air laut dan panas nya ( hangat kalo kata Saka hahaha ). Begitu sampe pantai aku cari tempat jual makanan yang menyediakan payung hihihihi ( teutep yaaa ) dan Saka udah asik sama pasir hangatnya ( hangat versi dia ). 

Bunda sibuk nyruput minuman dan Saka sibuk ngajakin bunda main, pas aku jawab tunggu biar ga terlalu panas dan Saka pun ngejawab "ga papa bun, ini hangat, itu orang - orang ( bule ) main disana ga panas kok"....hahahaha anak - anak ya tidak mengenal panas, dingin dan badai sekalipun, mereka cuma tau happy.

Segala rayuan di lancarkan dan setelah minuman abis ples beberapa cemilan, akirnya kita ( aku dan Saka ) nyemplung juga di pantai, dan ternyata menikmati pantai tanpa gadget itu asik sekali. Iya bener kata Saka pasirnya hangat dan bukan panas, lari diantara pasir dan air laut dengan kaki tanpa alas, garuk - garuk pasir dengan jari - jari, tiduran di pasir dan melihat awan di atas itu luaaar biasa rasanya ( jangan lupa pake sunglasses with UV protection ya biar aman ), dan kita pun tertawa geli ketika merasakan pasir di bawah telapak kaki keseret ombak hihihihihi itu yang bikin kita ketagihan mencari ombak kecil lagi.

Oh ya, akirnya aku bersedia duduk berbasah basahan di pasir karena Saka bilang " duduk kayak aku bun ( ngelempoh kata orang jawa ) kita main pasir, nanti bajunya kan bisa di cuci,bunda kan bawa baju lain di tas"....yoiiii ini anak emang paling tau kalo emaknya ogah kotor hahaha.

Love you dear, thank for invite me enjoy the beautifull beach with you in different way.
Thank to universe...in acouple hours i walked out, look up at the sky & and contemplate how amazing life is....





12 Sep 2014,










Wednesday, September 3, 2014

Ga kepo itu godaan terbesar

huehehehe aku suka mlesetin kalo kepo itu whiling to know nya besar jadi jangan di musnahkan hihihihi.
Kalo emak - emak yang whiling to know nya besar bagaimana? hahahaha emak kepo, ga cuma kepo tapi whilling to help others nya juga membara ( baca : ikut campur/ icam ) perpaduan yang cocok ya hahaha.

Sudah bawaan ortu, apalagi emak - emak hasrat ingin melindungi, memberi yang terbaik untuk anak - anaknya, jadi suka ga nyadar kalo ternyata itu masuk kategori kepo dan icam yak, ada anak yang sebel or ada anak yang seneng karena ortunya akan berbuat apa aja untuk dia hihihi.

Ga kepo dan ga icam ini yang masih terus aku latih ( untuk diri sendiri ), padalan gemes banget pas tau sendiri kalo Saka di rugiin sama temennya pas main, sementara Sakanya fine - fine aja. Kadang pulang - pulang nangis terus ngadu kalo kak A tadi ga mau di ajak main ( hanya butuh telinga berhati ) terus balik main lagi, kadang juga pulang dengan muka cemberut pas aku tanya kenapa, dia bilang soalnya kak B marah - marah.

Nah ini nih yang aku ga suka tentang ada temen main yang berkata kasar, marah - marah ga jelas. Ini merugikan banget, anak di rumah di ajarin baik - baik, eh ternyata di luaran menerima perlakuan kasar hihihihi gemeeees tapi kok anaknya fine - fine aja.

Jadi pas tidur malem, kita suka cerita - cerita lalu aku selipin tanya kalo misal kak A marah - marah pas main, Saka suka ga dan dia bilang ga suka, lalu aku timpalin kalo Saka ga suka brarti itu merugikan Saka, Saka bisa pilih main sama temen lain or pulang ke rumah main di rumah, dan pastinya ada pertanyaan susulan dari Saka kenapa begini begitu.
Jadi kesempatan aku kenalin mana aja batasan yang merugikan Saka, biar dia bisa membela dirinya.
Bukan kepo or icam, ini hanya beriklan saja tentang apa itu "merugikan"



4 Sep 2014,















with her own way....

Terbukti lagi dan lagi kalo manusia itu memang punya kebutuhan untuk bisa dan belajar dari sonononya dengan cara tersendiri, cuma kebutuhan untuk bisa dan belajar bisa jadi kandas hanya karena cara agar bisa itu harus "seragam", gimana bisa seragam kalo tiap - tiap orang punya kepribadian dan kemampuan yang ga sama.

Belajar dari film, game, video pasti dengan segera dicibirin " mainan kok di pake belajar, endi iso " ( mainan kok di pake belajar, mana bisa ) huehehehe itu komen dari para tetuah. Bukan menyalahkan para tetuah or meremehkan, iya ada benernya juga karena ga semua acara TV, video, game itu mendidik, jadi memang teutep kita para ortunya yang mesti milih mana yang bisa di kasih ke anak.

Bisa nulis kayak gini karena Saka selama ini banyak bersenang - senang sama video dan game, bisa mentoined warna in english, kenal angka, bergerak ala penari ballet, menyayi dan kemaren aku minta Saka mandi pagi tapi dia bilang nanti aja dan dia asik main di lantai dengan kalung mainannya lalu bilang " mama, look this circle " sambil nunjukin bentuk lingkaran yang dia buat dari rantai kalungnya



Dan lanjut dia bilang " this square " sambil nunjukin bentuk square yang di buat dari rantai kalungnya






Masih di lanjut lagi nunjukin model lain dari rantai kalungnya dan dia bilang " and this triangle "





ooohh wooow emaknya takjub sambil mlongo megang handuk mandi......
Kadang memang dia beberapa kata pake bahasa Inggris, ini karena tetangga kami ada yang dari Rusia, lalu aku bilang kalo Evi ( semoga bener tulisan namanya begini hahaha ) si temennya bicara pakai bahasa Inggris, jadi Evi dia belum tau bahasa Indonesia.

Dari cuma ngasih tau soal Ivy yang berbahasa Inggris, eh malah jadi panjang pertanyaannya mulai dari kenapa Evi ga bisa bahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya kepala, mata, telinga, jalan, jemuran, ga suka, ga ada, dll semuaa di tanyain hihihihi,,,,,kesempatan donk ya buat emaknya masukin vocab.

Dan juga hal - hal simple seperti tolong buka - tutup pintu, nyalain - matiin lampu or ac, tutup - buka mata, dll yang sering kita lakuin, aku coba pake English lalu aku translate ke Indonesia. Aku ga tau apa cara ini benar or ga, but its work for Saka dan menurut dia itu fun yang bikin makin sering dia tanya dan pengen tau bahasa Inggris dari benda - benda di sekitarnya.

Kadang nih dia suka ngomel dengan bahasa yang "aneh" yang maksud dia sebenrnya pengen ngomong pake bahasa Inggris, itu ngundang banget pengen ketawa, tapi aku tahan dan aku tanya Saka pengennya ngomong apa, dia nyebutin dan aku kasih tau bagaimana Englishnya...



4 Sep 2014








Thursday, August 28, 2014

Bunda happy?

Beberapa hari lalu waktu libur kerja aku sempet ngerapihin tempat mainan Saka, dan buanyak ( hampir semua ) mainan ga lagi utuh, badan boneka tanpa kepala, kaki boneka hanya bersepatu sebelah, pensil warna yang ga lagi lengkap, mainan peralatan dapur yang hanya tinggal tea pot nya aja ( itupun tanpa tutup ), dan masih banyak lagi yang akirnya tanpa sadar aku komen " ih Saka bunda sedih deh liat mainan Saka banyak yang rusak " 

Dari komen itu ternyata jadi conversation yang aga panjang, Saka tanya kenapa aku sedih, aku bilang karena liat mainan banyak yang rusak, padalan dulu beli mainanya pake perjuangan, lalu Saka bilang berarti kalo mainannya ga rusak bunda happy ya dan aku jawab iya,,,,,,

Entah kenapa percakapan itu kok rasanya janggal, ada yang aneh, ada yang ga pas dan sampe beberapa menit sebelum aku nulis inipun masih keinget sama percakapan itu.
Iya memang aneh dan janggal, karena kenapa juga aku mesti sedih ya liat mainan Saka ga lagi utuh ( utuh sesuai kriteriaku ), karena itu mainan memang waktu aku beli buat Saka, jadi hak milik dia, kenapa juga aku mesti make sure itu pemberianku harus di jaga, ga boleh rusak bla bla bla.....ga ikhlas tandanya dan kecanduan ngontrol huehehehe.

Daaaannn sampailah pada hari kamis 28 Aug 2014 kemaren, Saka berhasil berjuang tidur malam selama 3 hari di kamar tanpa pindah pindah pas menjelang Subuh demi bisa dapet set pensil warna mickey mouse yang udah di incer. Jelas dia girang berhasil dapet apa yang udah dipengen pake perjuangan dulu, di perjalanan pulang dia tanya " pensil warnanya di jaga biar ga rusak, bunda ga sedih, bunda happy ya kalo mainannya ga rusak" nyesssss.....perih dengernya, ternyata ga sadar selama ini aku mengatur segala sesuatu sesuai keinginanku,  akirnya aku bilang " ini milik Saka, Saka bisa punya ini karena Saka berhasil tidur malam ga pindah - pindah, mainannya boleh Saka pake apa aja, bunda happy kalo Saka happy"

Lagi - lagi ya pelajara ikhlas, kepemilikan, ga icam, kontrol sana sini perlu remidi hihihihihi......ga masalah yang penting "merasa" itu ada, remidi asal niat lulus pasti bisa, semangat emaaak !!!.
  
ini nih puisi karya Kahlil Gibran, seorang pujangga awal abad ke-20 yang lahir di Libanon, berjudul "Anakmu bukan Anakmu" buat refresh aja.




“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.






29 Aug 2014,